GAPURA JATENG, SEMARANG — Menjelang berakhirnya tahun 2025 dan datangnya tahun baru 2026, Dewan Penasihat DPP LDII, KH Edy Suparto, mengajak umat Islam menjadikan momen pergantian tahun sebagai sarana muhasabah diri, bukan sekadar perayaan seremonial. Menurutnya, hidup hakikatnya adalah menanam kebaikan di dunia untuk dipanen di akhirat kelak.
Mengapa Pergantian Tahun Perlu Dijadikan Momen Muhasabah Diri?
Pergantian tahun merupakan waktu yang tepat untuk menghitung pencapaian, mengevaluasi kekurangan, dan menyusun perbaikan ke depan. Namun, KH Edy Suparto menekankan pentingnya memperluas evaluasi tersebut pada aspek amal ibadah dan ketakwaan, bukan hanya urusan duniawi. Dengan prinsip ini, malam tahun baru sejatinya sama dengan malam-malam biasa yang tetap diisi dengan kebaikan.
Apakah Perayaan Tahun Baru Perlu Dilakukan Secara Berlebihan?
Ia menilai, jika pergantian tahun dipahami sebagai siklus waktu biasa, maka tidak ada keharusan melakukan euforia seperti pesta kembang api, begadang, tiup terompet, atau hura-hura lainnya. “Kita tidak perlu menghitung mundur atau berpesta pora,” tegasnya, seraya mengingatkan agar umat Islam tetap menjaga kesederhanaan dan nilai moral.
Bagaimana Tantangan Moral di Tengah Kemajuan Teknologi?
Perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan ancaman serius. Ponsel dan internet, menurut KH Edy Suparto, telah mengubah cara manusia bersosialisasi dan bekerja, sekaligus membuka peluang maraknya kejahatan, penipuan, judi online, hingga pergaulan bebas. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW bahwa setiap zaman akan menghadirkan tantangan yang lebih berat dari sebelumnya (HR. Bukhari).
Mengapa Generasi Muda Rentan Terpapar Pengaruh Negatif?
Kemudahan akses informasi sering membuat manusia lalai terhadap batas halal dan haram. Fenomena pinjaman online, judi daring, pornografi, hingga narkoba menjadi ancaman nyata. Perubahan ini juga memicu pergeseran budaya, termasuk menurunnya adab kepada orang tua dan guru, yang dulu sangat dijunjung tinggi.
Apa Bahaya Tasyabbuh dalam Perayaan Tahun Baru?
KH Edy Suparto mengingatkan larangan tasyabbuh, yakni menyerupai tradisi kaum nonmuslim dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Ia mengutip sejumlah hadis yang menegaskan bahaya mengikuti kebiasaan tersebut secara membabi buta. Perayaan tahun baru yang diisi pemborosan, minuman keras, bahkan maksiat, dinilai bertentangan dengan nilai Islam dan peringatan Al-Qur’an tentang larangan berlebih-lebihan.
Bagaimana Seharusnya Mengisi Malam Tahun Baru?
Sebagai solusi, ia mengajak masyarakat—terutama generasi muda—mengisi malam pergantian tahun dengan kegiatan positif seperti pengajian santai, makan bersama, dan acara keakraban yang tetap menjaga syariat. “Yang terpenting adalah meningkatkan iman dan takwa serta memperkuat ibadah kepada Allah SWT,” ujarnya.
Mengapa Refleksi Ini Penting bagi Masa Depan Umat?
Menurut KH Edy Suparto, perhatian serius terhadap generasi penerus menjadi kunci agar mereka tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Menyambut tahun baru 2026 seharusnya menjadi momentum memperbaiki diri, memperkuat akhlak, dan menjaga nilai keislaman di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.***
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah