
GAPURAJATENG | SURAKARTA – Aspal jalanan Kota Solo masih basah oleh sisa hujan deras Jumat sore (6/3). Namun, di dalam RM Delima, suasana justru menghangat. Puluhan pendekar dari keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang tergabung dalam komunitas KOBARET SoloRaya berkumpul, bukan untuk adu tanding, melainkan untuk mengasah kembali tajamnya rasa kepedulian di bulan suci Ramadan 2026.
Bukan Sekadar Berbuka, Tapi Berbenah
Momen buka puasa bersama ini menjadi ruang jeda bagi para anggota untuk mengevaluasi “napas” organisasi yang telah berjalan selama hampir sepuluh tahun. Fokus utamanya satu: Layanan Ambulans Kemanusiaan.
Koordinator kegiatan, Handoko Torres, memaparkan catatan perjalanan yang cukup menyentuh. Layanan ini bukan lahir dari kemewahan, melainkan dari tangan dingin para anggota yang ikhlas berbagi beban.
“Layanan ini adalah bukti bahwa persaudaraan kami melampaui batas latihan di gelanggang. Ini tentang pengabdian nyata di tengah masyarakat,” ujar Handoko.
Rekam Jejak: Dari Satu Unit hingga Ratusan Aksi
Perjalanan ambulans KOBARET adalah kisah tentang estafet kebaikan:
2019: Titik awal perjuangan saat seorang anggota bernama Kelik menghibahkan unit pertama. Unit ini menjadi saksi bisu perjuangan KOBARET saat berjibaku di garda depan pandemi COVID-19 di Solo.
2023–2024: Kekuatan bertambah dengan hadirnya hibah unit kedua dari Heri BK (Sukoharjo).
Hingga Kini: Dua armada ini telah melesat dalam sedikitnya 470 agenda kemanusiaan, mulai dari pengantaran pasien hingga evakuasi darurat, bekerja sama dengan PMI Solo dan berbagai rumah sakit di Surakarta.
Filosofi “Memayu Hayuning Bawono” dalam Tindakan

Bagi KOBARET, ambulans bukan sekadar kendaraan besi, melainkan manifestasi dari ajaran luhur PSHT: Memayu Hayuning Bawono—memperindah keindahan dunia.
Manajemen KOBARET secara konsisten memastikan bahwa setiap relawan yang memegang kemudi memiliki kesiapan mental dan fisik, serta unit yang selalu dalam kondisi prima. Semangat ini didukung penuh oleh jejaring donatur yang menjadi bahan bakar utama operasional layanan gratis ini.
Menuju Satu Dekade: 1.000 Paket Sembako Menanti
Tahun 2026 menjadi tahun yang sakral karena KOBARET genap berusia 10 tahun. Sebagai kado untuk masyarakat, mereka tidak berencana menggelar pesta pora.
“Rencananya akhir Mei nanti, kami akan menggelar bakti sosial besar-besaran dengan target pembagian sembako kepada 1.000 penerima manfaat,” tambah Handoko.
Acara sore itu ditutup dengan doa bersama. Di tengah gemericik hujan yang tersisa, ada komitmen yang makin kokoh: bahwa selama roda ambulans KOBARET masih berputar, selama itu pula napas kemanusiaan di SoloRaya akan terus terjaga. (Ghoni)
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah