
GAPURAJATENG | SURAKARTA – Transformasi digital di dunia pendidikan tidak lagi cukup dimaknai sebagai penggunaan komputer, aplikasi, atau jaringan internet di ruang kelas. Bagi sekolah menengah kejuruan (SMK), teknologi harus mampu menjembatani proses belajar dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Tantangan itulah yang mendorong 34 guru SMK Warga Surakarta mengikuti Pelatihan Manajemen Pembelajaran Digital Berbasis Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Kompetensi Guru SMK dalam Menghadapi Kebutuhan Industri. Kegiatan berlangsung di Aula SMK Warga Surakarta, Jalan Kolonel Sutarto Nomor 201, Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Senin (20/7/2026).
Pelatihan tersebut menjadi ruang bagi para pendidik untuk mengembangkan kemampuan merancang, melaksanakan, mengelola, hingga mengevaluasi pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi digital secara lebih terarah.
Kegiatan menghadirkan Dosen Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Budi Tri Cahyono, S.Kom., M.T., dan Dr. Suparmi, S.I.P., M.Pd. Materi tidak hanya disampaikan melalui pemaparan, tetapi juga dikembangkan melalui diskusi, praktik, dan pengembangan media pembelajaran.
Kepala SMK Warga Surakarta, Sarjoko, S.Pd., memberikan ruang bagi guru untuk meningkatkan kemampuan digital sebagai bagian dari penguatan kualitas pembelajaran di sekolah kejuruan.
Guru Dituntut Tak Sekadar Melek Teknologi
Perubahan kebutuhan industri membuat kompetensi guru SMK menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Otomatisasi, digitalisasi proses kerja, penggunaan perangkat lunak, hingga perubahan pola komunikasi di tempat kerja menuntut sekolah mampu mempersiapkan peserta didik dengan keterampilan yang relevan.
Dalam konteks tersebut, guru tidak cukup hanya mampu mengoperasikan aplikasi. Mereka perlu memahami mengapa teknologi digunakan, untuk tujuan apa, dan bagaimana teknologi tersebut dapat membantu siswa memahami persoalan nyata.
Pendekatan pembelajaran kontekstual menjadi salah satu strategi yang diperkuat dalam pelatihan. Materi pembelajaran diarahkan agar memiliki keterkaitan dengan pengalaman peserta didik, lingkungan sekitar, maupun situasi yang berpotensi mereka temui ketika memasuki dunia kerja.
Dengan pendekatan itu, siswa tidak berhenti pada aktivitas menghafal teori. Mereka didorong untuk memahami persoalan, menghubungkan pengetahuan dengan kondisi nyata, menerapkan konsep, kemudian mencari solusi.
Bagi pendidikan vokasi, pola tersebut menjadi penting karena karakter pembelajarannya memang menempatkan keterampilan dan kesiapan kerja sebagai bagian utama proses pendidikan.
Canva Jadi Salah Satu Media Praktik
Salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam pelatihan adalah Canva. Aplikasi desain berbasis digital tersebut dimanfaatkan sebagai sarana membantu guru mengembangkan media pembelajaran yang lebih komunikatif dan visual.
Guru dapat menggunakannya untuk membuat presentasi, infografis, poster edukasi, lembar informasi, maupun materi visual lain yang mendukung proses pembelajaran.
Namun, penggunaan Canva tidak ditempatkan sebagai tujuan utama. Teknologi tetap diposisikan sebagai alat pedagogis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Prinsip tersebut penting agar digitalisasi pendidikan tidak berhenti pada persoalan tampilan. Media yang menarik harus tetap memiliki pesan yang jelas, sesuai karakteristik siswa, relevan dengan kompetensi yang dipelajari, serta mampu membantu peserta didik memahami materi.
Dalam pembelajaran SMK, media visual bahkan dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai hal yang membutuhkan representasi konkret, seperti prosedur kerja, tahapan produksi, keselamatan kerja, penggunaan peralatan, alur pelayanan, hingga simulasi suatu proses.
Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Kerja
Pelatihan tersebut juga menegaskan bahwa kompetensi digital guru harus berjalan beriringan dengan kompetensi pedagogis. Guru perlu memahami karakter peserta didik, menentukan capaian pembelajaran, memilih metode yang tepat, kemudian memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan.
Dengan demikian, pembelajaran digital bukan sekadar memindahkan materi dari buku ke layar komputer atau telepon pintar. Lebih jauh, teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan beradaptasi.
Kemampuan tersebut semakin relevan dengan kebutuhan industri yang menginginkan lulusan tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mampu belajar dan beradaptasi ketika teknologi serta pola kerja berubah.
Di sisi lain, peningkatan kompetensi guru juga berpotensi menciptakan efek berantai di lingkungan sekolah. Guru yang telah memperoleh pengalaman baru dapat membagikan praktik baik kepada rekan sejawat dan mengembangkan media pembelajaran yang lebih beragam sesuai bidang keahlian masing-masing.
Transformasi Digital Dimulai dari Guru
Kegiatan di SMK Warga Surakarta menunjukkan bahwa transformasi pendidikan pada akhirnya sangat bergantung pada kesiapan manusia yang berada di balik teknologi.
Perangkat digital dapat terus berkembang, tetapi efektivitasnya dalam pendidikan ditentukan oleh kemampuan guru menggunakannya secara tepat. Karena itu, investasi pada kompetensi pendidik menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan vokasi yang responsif terhadap perubahan.
Bagi SMK Warga Surakarta, penguatan kompetensi tersebut diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kehidupan nyata dan perkembangan dunia kerja.
Lebih dari sekadar pelatihan aplikasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa guru merupakan aktor utama transformasi pembelajaran. Ketika guru mampu memadukan teknologi, pedagogi, dan konteks dunia industri, ruang kelas tidak lagi hanya menjadi tempat menyampaikan teori.
Ruang kelas dapat berubah menjadi tempat siswa belajar menghadapi persoalan nyata, menguji gagasan, bekerja sama, menciptakan solusi, sekaligus membangun kesiapan menghadapi masa depan.
Dari sanalah pendidikan vokasi memperoleh relevansinya: menghubungkan pengetahuan, keterampilan, teknologi, dan kebutuhan industri melalui pembelajaran yang manusiawi serta kontekstual. (Ghoni)
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah