Gapurajateng.com,Kabupaten Semarang — Semangat kebersamaan dan toleransi antarwarga begitu terasa dalam kegiatan Malam Tirakatan dan Pentas Seni dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar warga RT 17 Dusun Kalikendel, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Minggu, 16 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat. Warga RT 17 berasal dari berbagai latar belakang agama dan sosial ekonomi. Di lingkungan tersebut hidup berdampingan warga beragama Nasrani dan Muslim, dengan keberagaman di kalangan Muslim yang berasal dari berbagai organisasi keagamaan, termasuk LDII dan Nahdlatul Ulama (NU).
Dari sisi sosial ekonomi, warga juga memiliki beragam profesi, mulai dari buruh, petani, pedagang, pegawai negeri sipil (PNS), hingga berbagai pekerjaan lainnya. Kendati memiliki perbedaan keyakinan, profesi, maupun latar belakang kehidupan, hubungan sosial kemasyarakatan di RT 17 berjalan secara kondusif dengan menjunjung tinggi nilai toleransi, saling menghormati, dan gotong royong.
Semangat tersebut terlihat dalam berbagai rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Warga bersama-sama melaksanakan kerja bakti, memasang bendera dan berbagai atribut kemerdekaan, mengikuti jalan sehat, serta menggelar beragam perlombaan yang melibatkan anak-anak hingga ibu-ibu PKK. Seluruh kegiatan berlangsung dalam suasana guyub dan penuh kekeluargaan.
Sebelum acara malam tirakatan dimulai, warga terlebih dahulu menikmati makan bersama. Tradisi tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul, berbincang, dan mempererat hubungan antartetangga dalam suasana santai dan penuh keakraban.
Tepat pukul 19.30 WIB, acara resmi dimulai dengan pembukaan oleh Adi Setyo Nugroho, S.Pd. selaku pembawa acara. Rangkaian kegiatan kemudian diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Sriyanto, selaku Ketua Panitia sekaligus Ketua RT 17. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi dan bergotong royong sehingga seluruh rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan dapat terlaksana dengan baik.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah doa bersama lintas agama. Doa dari umat Muslim dipimpin oleh Bapak Sarono, sedangkan doa dari perwakilan umat Nasrani disampaikan oleh Bapak Andreas Supriyono. Momen tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana keberagaman keyakinan dapat berjalan beriringan dalam kehidupan bermasyarakat.
Setelah doa bersama, acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni dan kegiatan sesuai susunan acara yang telah dipersiapkan panitia. Di antaranya persembahan lagu “Bersatulah Indonesia”, tari dari grup anak-anak RT 17, pemotongan tumpeng, paduan suara ibu-ibu PKK, penyerahan hadiah perlombaan anak-anak, Tari Maumere, persembahan lagu “Negoro Angin”, puisi kemerdekaan, Tari Wulan Merindu dan Siji Ping Selawé, hingga puisi bersambung yang melibatkan mahasiswa KKN UNS.
Berbagai penampilan tersebut mendapat perhatian dan antusiasme warga. Anak-anak, ibu-ibu, pemuda, maupun masyarakat lainnya turut mengambil bagian sehingga pentas seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi warga untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus membangun rasa percaya diri.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan hadiah perlombaan dan penutupan oleh pembawa acara. Seluruh kegiatan berlangsung dalam suasana meriah, hangat, dan penuh kebersamaan.
Malam tirakatan tersebut menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui upacara dan simbol-simbol kebangsaan, tetapi juga melalui kehidupan bermasyarakat yang rukun. Keberagaman agama, profesi, serta kondisi sosial ekonomi bukan menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.
Bagi warga RT 17 Dusun Kalikendel, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momentum untuk terus merawat persatuan, memperkuat gotong royong, dan menjaga toleransi. Semangat Bhinneka Tunggal Ika pun tercermin dalam kehidupan sehari-hari: berbeda keyakinan dan latar belakang, tetapi tetap dapat duduk bersama, bekerja bersama, bergembira bersama, dan saling menghormati sebagai satu keluarga besar masyarakat.
Kebersamaan yang terbangun di tengah keberagaman tersebut menjadi modal penting untuk menjaga lingkungan tetap aman, nyaman, harmonis, dan kondusif, sekaligus meneruskan nilai perjuangan para pendahulu dalam mengisi kemerdekaan melalui kehidupan sosial yang damai dan penuh persaudaraan.
Nur Fatikin
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah