
SURAKARTA — Di balik dinding Masjid Baitul A’la, Surakarta, sebuah narasi besar tentang masa depan generasi muda sedang dirajut. Minggu pagi (28/6), ratusan pemuda-pemudi usia produktif berkumpul bukan sekadar untuk mendengarkan tausiah keagamaan normatif, melainkan untuk membedah peta persaingan dunia kerja modern dalam gelaran Pengajian Usia Mandiri.
Mengangkat jargon filosofis “Ilmu, Iman, Aksi, Mandiri”, DPD LDII Kota Surakarta melakukan terobosan inovatif dengan mengawinkan pembinaan spiritual dan penguatan vokasional. Tak tanggung-tanggung, ruang sakral ibadah pagi itu bertransformasi menjadi ruang inkubasi karier berkat sinergi taktis bersama Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Surakarta dan BLUD Solo Technopark.
Menolak Pengangguran, Menuntut Karakter
Di hadapan para lulusan SMA/SMK yang sedang berada di persimpangan jalan mencari jati diri, Ketua DPD LDII Kota Surakarta, H. Muhammad Zain, S.H., M.H., menegaskan bahwa kontribusi nyata organisasi keagamaan hari ini adalah membantu pemerintah menekan angka pengangguran lewat cetak biru SDM yang tangguh.
“Kami ingin membekali generasi muda dengan dua fondasi yang tidak boleh dipisahkan: profesionalisme dan religiusitas. Dunia kerja hari ini tidak kekurangan orang pintar, tapi krisis orang jujur. Sebelum mereka memegang kendali pekerjaan atau bisnis, moralitas mereka harus tuntas—harus jujur, amanah, disiplin, dan bertanggung jawab,” ujar Muhammad Zain dengan lugas.

LDII tidak sekadar melempar wacana atau sekadar membagikan lembar lowongan kerja. Melalui jejaring profesional, para peserta yang memiliki minat spesifik—seperti pemasaran digital hingga keahlian teknis—langsung dipetakan dan dijembatani menuju program pelatihan gratis yang relevan. Syaratnya hanya satu: komitmen total hingga program tuntas.
Dari “Mencari Kerja” Menuju “Naik Kelas”
Menariknya, denyut nadi kewirausahaan justru terlihat sangat kencang di kalangan generasi muda LDII Solo. Banyak di antara mereka yang sudah merintis bisnis mandiri berbasis digital, mulai dari perputaran omzet fashion, sepatu, hingga ceruk pasar online lainnya.
Melihat potensi ini, arah pembinaan sengaja dibuat berjenjang. Bagi mereka yang belum bekerja, bantalan informasi dan pelatihan dasar diberikan secara masif. Sementara bagi para perintis usaha, porsinya digeser ke arah leveling up—pendampingan tata kelola keuangan, manajemen risiko, serta strategi ekspansi pasar yang berkelanjutan.
Hadir sebagai pemantik materi dari Disnaker Surakarta, Kris Dwi Tanti, S.T., M.H. (Bidang Perencanaan dan Produktivitas) bersama Estie Susanti (Pengantar Kerja Ahli Muda) mengupas tuntas dinamika kebutuhan industri serta strategi memoles produktivitas kerja. Sementara dari sayap BLUD Solo Technopark, trio praktisi Untung Priyohananto, S.E., Susilo Budi Arianto, S.T., dan Putra Adi Widrajat, membuka lebar-lebar pintu pelatihan vokasi mutakhir yang siap diakses para peserta.

Menyentuh Sisi Attitude dan Jiwa Sosial
Esensi pelatihan ini rupanya membekas mendalam di sanubari para peserta. Irfan Saputra, pemuda asal PC LDII Pasar Kliwon, mengaku terkesan dengan muatan humanis yang disampaikan para mentor sepanjang acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 10.00 WIB tersebut.
“Acara ini luar biasa dan sangat konkret buat kami yang baru lulus sekolah agar bisa langsung merapat ke Disnaker atau Solo Technopark. Tapi dari semua materi, ada satu yang paling masuk ke hati saya, yaitu pentingnya kompetensi attitude (sikap) dan jiwa sosial. Jauh di atas keterampilan teknis, karakter itu yang akan membuat Solo menjadi kota yang lebih mandiri,” tutur Irfan penuh antusias.
Agenda strategis ini turut dikawal langsung oleh Dewan Penasihat DPD LDII Kota Surakarta, Drs. H. Khusnan Hidayat, bersama jajaran fungsionaris DPD lainnya. Sinergi segitiga antara modal spiritual masjid, kebijakan regulator Disnaker, dan dapur keterampilan Solo Technopark ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya generasi baru di Surakarta: pemuda yang mandiri secara ekonomi, kokoh secara iman, dan maslahat bagi masyarakat. (Ghoni)
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah