
Gapurajateng | Karanganyar — Lereng Gunung Lawu kembali menghijau. Sebanyak 1.500 bibit pohon ditanam di Dusun Tambak, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Minggu (18/1/2026), sebagai bagian dari gerakan reboisasi terpadu guna menekan risiko bencana tanah longsor.
Kegiatan bertajuk “Bakti Kami pada Bumi Intanpari: Pohon dari Kami untuk Bumi Intanpari” ini diinisiasi oleh BPBD Kabupaten Karanganyar bekerja sama dengan Perhutani dan Relawan Karangpandan (Rendan), serta mendapat dukungan aktif dari SAR Senkom Mitra Polri Karanganyar.
Lokasi penanaman yang berada di sekitar Candi Sukuh, kawasan lereng Gunung Lawu, dipilih berdasarkan hasil pemetaan bersama Perhutani. Wilayah tersebut dinilai masih minim tutupan vegetasi, sehingga membutuhkan penguatan struktur tanah dan peningkatan daya serap air, terutama saat musim hujan.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, menegaskan bahwa kawasan lereng Gunung Lawu memiliki fungsi ekologis strategis yang tidak boleh diabaikan.
“Ketika pepohonan berkurang, tanah kehilangan pengikat alaminya. Kondisi ini sangat rawan longsor. Menanam pohon bukan sekadar penghijauan, tetapi investasi keselamatan jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebanyak 150 personel terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari unsur Perhutani Surakarta, BPBD Karanganyar, Senkom Mitra Polri, relawan lintas ormas, serta warga sekitar. Kolaborasi lintas elemen tersebut menjadi bukti bahwa mitigasi bencana membutuhkan kerja bersama, bukan hanya mengandalkan pemerintah.
Ketua Bidang PB SAR Senkom Karanganyar, Sutaryo, mengatakan keikutsertaan Senkom merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan dan pengurangan risiko bencana.
“Bagi kami, menanam pohon adalah bentuk nyata kepedulian terhadap keselamatan masyarakat. Lingkungan yang lestari akan melahirkan rasa aman dan keberlanjutan bagi generasi mendatang,” ungkapnya.

Selain berdampak ekologis, kegiatan ini juga mengandung nilai edukasi lingkungan. Keterlibatan relawan dan masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pencegahan bencana dimulai dari langkah sederhana, yakni menjaga alam sekitar.
BPBD Karanganyar berharap gerakan serupa dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki karakteristik rawan bencana. Dengan demikian, upaya mitigasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang tumbuh dari kesadaran bersama.(Ghoni)
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah