kecelakaan pesawat ATR
kecelakaan pesawat ATR

Kisah Pramugari Florencia, Awak ATR yang Gugur dalam Tragedi Gunung Bulusaraung

Duka Keluarga Pramugari Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

GAPURA JATENG, MAROS — Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026), menyisakan duka mendalam bagi keluarga awak kabin.

Salah satu korban adalah Florencia Lolita Wibisono, pramugari yang dikenal ramah dan berdedikasi tinggi dalam dunia penerbangan.

Florencia, yang akrab disapa Ollen, menjadi bagian dari kru kabin dalam penerbangan nahas tersebut. Kepergiannya tidak hanya menyisakan kesedihan, tetapi juga meninggalkan kisah harapan hidup yang belum sempat terwujud.

Di Balik Seragam Pramugari, Ada Rencana Pernikahan

Di mata keluarga, Florencia bukan sekadar pramugari profesional, tetapi juga sosok anak dan saudara yang menjadi kebanggaan. Perempuan berusia 32 tahun itu diketahui tengah bersiap menyambut momen bahagia berupa pernikahan yang telah lama dinantikan keluarga.

“Iya, dia memang akan segera menikah. Kami semua sudah menantikan momen bahagia itu,” ujar Juwita, salah satu kerabat Florencia, dengan suara lirih.

Kabar duka ini terasa begitu berat karena harapan besar keluarga harus terhenti oleh tragedi yang datang tiba-tiba.

Anak Bungsu dari Enam Bersaudara

Florencia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Sejak kabar jatuhnya pesawat diterima, keluarga diliputi kecemasan dan terus menunggu kepastian dari pihak berwenang mengenai nasib Ollen.

Beberapa jam sebelum kejadian, Florencia masih sempat membagikan aktivitas kesehariannya melalui media sosial. Unggahan sederhana itu kini menjadi kenangan terakhir, tanpa tanda atau firasat bahwa penerbangan tersebut akan menjadi perjalanan terakhirnya.

Baru Tiga Bulan Bertugas di ATR 42-500

Anggota keluarga lainnya, Ramos, mengungkapkan bahwa Florencia baru sekitar tiga bulan bertugas sebagai pramugari di armada ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport (IAT).

“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” kata Ramos saat ditemui di rumah keluarga korban di Tondano, Kabupaten Minahasa, Minggu (18/1/2026).

Meski baru bergabung di jenis pesawat tersebut, pengalaman Florencia di dunia penerbangan terbilang panjang dan matang.

Pramugari Senior dan Trainer Awak Kabin

Sebelum bergabung di ATR, Florencia diketahui telah 13 hingga 14 tahun berkarier di maskapai Lion Air. Jam terbangnya yang tinggi membuatnya dipercaya bukan hanya sebagai awak kabin senior, tetapi juga trainer bagi pramugari baru.

“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” ungkap Ramos.

Peran tersebut menunjukkan bahwa Florencia memiliki kapasitas lebih dalam pembinaan sumber daya manusia di dunia penerbangan, termasuk membimbing kru junior agar siap menjalankan tugas dengan profesional.

Calon Suami Berprofesi sebagai Pilot

Rencana pernikahan Florencia semakin menyentuh perhatian publik setelah keluarga mengungkap bahwa calon suaminya merupakan seorang pilot di salah satu maskapai penerbangan. Ikatan dua insan di dunia aviasi itu kini hanya tinggal rencana yang tak sempat terwujud.

Kepergian Florencia meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan-rekan seprofesi yang mengenalnya sebagai pramugari berdedikasi, mentor, dan sahabat.***

Facebook Comments Box

Check Also

Tol Japek II Selatan Gratis Saat Mudik Lebaran 2026, Jakarta–Bandung Tembus 45 Menit

Kabar Baik Mudik Lebaran 2026: Tol Japek II Selatan Segera Beroperasi GAPURA JATENG, BANDUNG — …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *