
GAPURAJATENG | SURAKARTA — Ada pemandangan kontras yang mendobrak sekat kaku pakem pendidikan formal di halaman SD Negeri Joglo, Banjarsari, Surakarta, sejak Senin pagi (8/6/2026). Jika biasanya ruang sekolah didominasi deretan bangku, papan tulis, dan ketegangan menjelang pembagian rapor, dua hari ini atmosfernya berbalik total. Halaman sekolah disulap menjadi episentrum energi kreatif bertajuk SPARK OF SDN JOGLO 2026 (Sport, Art, Market, Performance, and Creativity of SDN Joglo).
Sebuah selebrasi tahunan yang bukan sekadar seremonial pelepas penat usai ujian, melainkan manifesto nyata dari apa yang disebut sebagai kemerdekaan belajar: membiarkan seluruh anak tumbuh menjadi bintang di atas panggungnya sendiri tanpa terkecuali.
Visualisasi kehangatan ini terekam apik dalam dokumentasi. Di tengah keriuhan stan Market Day, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Eni Idayati, S.Pd., M.Pd., bersama jajaran guru berpakaian dinas, tampak tersenyum lebar menyandingi seorang siswi yang tampil memukau dalam balutan kostum karnaval merah muda bermotif bunga sakura yang megah. Sebuah simbol bahwa di sekolah ini, imajinasi anak diberi ruang tumbuh setinggi langit.

Partisipasi Semesta: Mengikis Kasta Keberbakatan
Ajang unjuk potensi yang bergulir sepanjang 8–9 Juni 2026 ini memuat satu catatan krusial yang membuatnya berbeda dari pentas seni sekolah pada umumnya: hilangnya sistem seleksi yang diskriminatif. Biasanya, panggung sekolah hanya memesan ruang bagi siswa-siswa yang dinilai “paling berbakat” atau juara kelas. Namun, di bawah kepemimpinan Ngatmanto, S.Pd., M.Pd., dogma lama itu runtuh.
“Tahun ini kami memiliki 485 siswa, dan seluruhnya tanpa terkecuali wajib tampil di atas panggung. Ini adalah Gelar Potensi Siswa yang inklusif. Setiap anak minimal memegang satu peran pertunjukan, bahkan ada yang tampil hingga lima kali karena lintas bakat,” ujar Ngatmanto tegas saat ditemui di sela-sela acara.
Melalui integrasi empat pilar utama—Pentas Seni, Gelar Karya, Gelar Potensi, dan Market Day—sekolah merajut ruang pamer yang adil. Hasil pembelajaran siswa dari berbagai fase (kelas bawah hingga kelas atas), termasuk karya aplikatif dari mata pelajaran olahraga dan pendidikan agama, dipajang berjejer, menuntut apresiasi yang sama rata dari para pengunjung.
Dinamika ini memicu pujian langsung dari Kabid Pendidikan SD Dinas Pendidikan Surakarta, Eni Idayati. Berdiri di tengah riuh rendah halaman sekolah, Eni menyebut model tata kelola kegiatan di SDN Joglo sebagai bentuk “Partisipasi Semesta”.
“Mutu pendidikan modern tidak akan pernah tercapai jika sekolah berjalan sendirian. Apa yang ditunjukkan SDN Joglo hari ini adalah hasil orkestrasi gotong royong yang matang antara pihak sekolah, komite, wali murid, hingga kemitraan dunia usaha melalui CSR. Ini bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan bagi sekolah lain tentang bagaimana menghadirkan pendidikan yang bermakna, menyenangkan, dan berdampak langsung pada mentalitas anak,” papar Eni retoris.

Ruang Kontekstual: Es Jelibol, Kreativitas, dan Mentalitas Wirausaha
Aroma kuliner lokal dan teriakan riang menawarkan barang dagangan seketika menyeruak di koridor Market Day. Sebanyak 18 stan yang dikelola secara kolaboratif oleh siswa, guru, dan paguyuban orang tua murid menjadi laboratorium ekonomi mikro yang sangat hidup. Di sinilah teori-teori matematika sosial dan pendidikan karakter diuji secara riil di lapangan.
Tengok saja aksi Anindia, siswi kelas 6 yang mendadak jadi “CEO cilik” di stannya. Mengenakan celemek dengan peluh yang mengucur di dahi, ia dengan cekatan melayani pembeli yang mengantre es jelibol (jeli bola) dan gantungan kunci hasil kreasi kelompoknya.
“Seru banget! Dari pagi tadi jualan es sama gantungan kunci, sekarang alhamdulillah sudah untung sekitar 100 ribu rupiah lebih. Capek, tapi senang bisa tahu rasanya cari uang dan jualan bareng teman-teman,” cetus Anindia dengan mata berbinar penuh rasa percaya diri.
Ngatmanto menambahkan, pengalaman seperti yang dialami Anindia adalah inti dari pembelajaran kontekstual sejak dini. “Di Market Day, anak-anak dipaksa belajar bernegosiasi, berkomunikasi, mengelola modal secara sederhana, dan yang terpenting: melatih mentalitas tangguh serta kerja sama tim. Ini adalah keterampilan hidup (life skills) yang tidak mungkin mereka dapatkan hanya dengan membaca buku teks di dalam kelas,” jelasnya.
Merawat Sinergi Tanpa Beban
Sering kali, kegiatan megah di institusi pendidikan menyisakan polemik klasik terkait anggaran yang membebani orang tua. Menjawab tantangan itu, SDN Joglo membuktikan bahwa tata kelola finansial yang transparan dan kolaboratif dapat menjadi jalan keluar. Struktur pembiayaan SPARK OF SDN JOGLO 2026 ditopang secara proporsional melalui subsidi silang antara Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dukungan dunia usaha, serta kontribusi sukarela masyarakat yang dikelola secara akuntabel oleh komite sekolah.
Ketika hari beranjak siang dan panggung terus bergantian menampilkan tari daerah, paduan suara, hingga aksi pencak silat, satu pesan besar berhasil digemakan dari Banjarsari: pendidikan berkualitas tidak diukur dari seberapa steril ruang kelasnya dari keriuhan, melainkan dari seberapa berani sekolah memberikan karpet merah bagi setiap keunikan anak untuk bersinar.
Melalui helatan ke-6 ini, SDN Joglo tidak sekadar menutup kalender akademik dengan angka-angka di lembar rapor. Mereka telah menanamkan memori kolektif yang tak ternilai bagi ratusan anak didik mereka: bahwa di bawah langit Surakarta, mereka pernah berdiri tegak di atas panggung, diakui potensinya, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya yang siap menyongsong masa depan dengan kepala tegak. (Ghoni)
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah