Gapurajateng,.com,Brebes – Komitmen menjaga kelestarian lingkungan pesisir terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan Gerakan Brebes ASRI yang digelar di kawasan Pantai Randusanga, Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jumat (3/7/2026). Dalam kegiatan tersebut, Senkom Mitra Polri Kabupaten Brebes turut ambil bagian bersama pemerintah, relawan, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam aksi penanaman mangrove sebagai upaya menjaga ekosistem pesisir serta mengurangi dampak abrasi.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB itu menjadi wujud sinergi lintas sektor dalam mendukung pelestarian lingkungan. Sebanyak 2.045 bibit mangrove ditanam di sepanjang kawasan pesisir sebagai langkah nyata memperkuat perlindungan garis pantai sekaligus menjaga keberlangsungan habitat berbagai biota laut.
Koordinator Senkom Brebes, M. Untung, mengatakan keterlibatan Senkom dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian organisasi terhadap kelestarian lingkungan. Menurutnya, pengabdian Senkom tidak hanya diwujudkan melalui dukungan di bidang komunikasi, keamanan, dan penanggulangan bencana, tetapi juga melalui partisipasi aktif dalam berbagai program sosial dan pelestarian alam.
“Pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan penanaman mangrove ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata sekaligus mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir,” ujarnya.
Aksi penanaman mangrove tersebut turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup, Muhammad Jumhur Hidayat, yang menegaskan pentingnya rehabilitasi kawasan mangrove sebagai bagian dari strategi nasional menghadapi perubahan iklim. Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan bahwa sekitar 700 ribu hektare, atau hampir 30 persen dari total 3,4 juta hektare mangrove di Indonesia, saat ini berada dalam kondisi rusak atau mengalami degradasi.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena kerusakan mangrove dapat memperbesar risiko abrasi, banjir rob, hingga hilangnya habitat alami di kawasan pesisir.
Jumhur menjelaskan bahwa mangrove memiliki fungsi yang sangat strategis, tidak hanya sebagai pelindung alami pantai dari terjangan ombak, tetapi juga sebagai salah satu ekosistem penyerap karbon paling efektif.
“Ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida yang sangat tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan biasa. Karena itu, pelestarian mangrove menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kawasan Pantai Utara Jawa, khususnya wilayah Semarang, Tegal, dan Brebes, yang saat ini menghadapi ancaman serius berupa abrasi dan banjir rob. Untuk itu, Kementerian Lingkungan Hidup terus menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna memperkuat ketahanan wilayah pesisir.
Selain memperluas rehabilitasi mangrove, pemerintah juga tengah menyusun kebijakan Water Farming, yakni pemanfaatan dan pengembalian air hujan ke dalam tanah melalui pembangunan biopori, sumur resapan, serta penanaman pohon. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi eksploitasi air tanah yang menjadi salah satu penyebab penurunan muka tanah (land subsidence), terutama di kawasan perkotaan.
Jumhur turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam rehabilitasi mangrove, mulai dari relawan, dunia usaha, perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan, pihak yang telah memberikan dukungan anggaran, tenaga, dan waktu, termasuk perguruan tinggi, Pemerintah Kabupaten Brebes, Pemerintah Kota Tegal, serta seluruh elemen masyarakat yang terlibat. Kolaborasi seperti ini merupakan bagian penting dalam upaya bersama menjaga kelestarian bumi,” tuturnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga tengah mempersiapkan pembangunan Giant Sea Wall sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ancaman abrasi di Pantai Utara Jawa. Namun demikian, rehabilitasi mangrove tetap menjadi langkah paling efektif yang dapat dilakukan dari sisi daratan sembari menunggu terealisasinya proyek tersebut.
Melalui semangat kolaborasi yang terbangun dalam Gerakan Brebes ASRI, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir semakin meningkat. Sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, relawan, dan masyarakat dinilai menjadi fondasi penting dalam mewujudkan lingkungan pesisir yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah