Senkom Surakarta Perkuat Sistem Komunikasi Digital, Cetak Pengendali Informasi yang Responsif dan Humanis

GAPURAJATENG | SURAKARTA – Senkom Mitra Polri Kota Surakarta menegaskan komitmennya dalam menjawab tantangan keamanan dan komunikasi di era digital melalui pelaksanaan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Neting Connection System (NCS) atau Pengendali Komunikasi. Kegiatan yang digelar di Gedung DPD lantai 2 Sekretariat Senkom Surakarta pada Minggu malam (24/5/2026) tersebut menjadi tonggak penting transformasi organisasi menuju sistem komunikasi modern yang terintegrasi, cepat, dan berbasis pelayanan kemanusiaan.
Di tengah perkembangan teknologi informasi yang bergerak semakin dinamis, kesiapsiagaan tidak lagi cukup dimaknai sebagai kehadiran personel di lapangan. Ketepatan arus informasi, kecepatan distribusi data, serta kemampuan membaca situasi secara real-time kini menjadi faktor utama dalam mendukung stabilitas keamanan dan pelayanan masyarakat.

Diklat ini melibatkan seluruh unsur strategis organisasi, mulai dari pembina, pengurus harian, Bidang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), Bidang Publikasi Humas dan Hubungan Antar Lembaga (PHMAL), hingga Bidang Telekomunikasi dan Informatika (Telematika). Setiap wilayah juga mengirimkan empat personel pilihan yang dipersiapkan menjadi pengendali komunikasi di daerah masing-masing.

Pembina Senkom Kota Surakarta, H. Sugiyarto, menekankan bahwa modernisasi teknologi tidak boleh menghilangkan ruh pengabdian sosial yang menjadi fondasi organisasi. Menurutnya, seluruh aktivitas Senkom harus tetap berpijak pada nilai ibadah dan kemanfaatan bagi masyarakat luas.

Senkom ini lahir dari semangat pengabdian. Ketika kita membantu menjaga keamanan lingkungan, mengatur komunikasi, hingga turun membantu masyarakat, maka itu bukan sekadar tugas organisasi, tetapi juga bentuk ibadah sosial. Profesionalisme harus berjalan seiring dengan kepedulian dan empati,” ujarnya di hadapan peserta diklat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi digital yang dilakukan Senkom bukan bertujuan membentuk relawan yang kaku dan mekanis, melainkan personel yang tangguh, responsif, sekaligus humanis dalam menjalankan tugas di lapangan.

Sementara itu, Ketua Senkom Kota Surakarta, Yusuf Erwansyah, menyoroti pentingnya reposisi peran personel komunikasi di tengah tantangan pengamanan modern. Menurutnya, petugas komunikasi tidak lagi hanya berfungsi sebagai penjaga area atau pelengkap kegiatan, tetapi harus menjadi pusat kendali informasi yang mampu membaca situasi secara cepat dan akurat.
Ketika ada tamu VIP memasuki wilayah pemantauan, operator komunikasi harus menjadi pihak pertama yang bergerak. Jalur harus dipastikan aman, distribusi informasi berjalan cepat, dan kondisi lapangan harus terus diperbarui secara real-time. Jika komunikasi tersendat, maka seluruh sistem pengamanan bisa terganggu,” tegas Yusuf.

Ia juga menginstruksikan penguatan sistem operator piket selama 30 hari penuh secara bergantian di tingkat daerah maupun provinsi guna memastikan tidak terjadi kekosongan informasi dalam rantai komunikasi organisasi. Menurutnya, komunikasi merupakan urat nadi utama dalam setiap aktivitas pengamanan dan pelayanan sosial.
Pada sesi teknis, Ketua Bidang Telematika, Amal Arrochman, memaparkan perkembangan teknologi komunikasi yang digunakan Senkom dari masa ke masa. Jika sebelumnya organisasi mengandalkan radio genggam berbasis frekuensi HT konvensional, kini Senkom telah bertransformasi memanfaatkan platform digital seperti Zello hingga Smart Digital Communication (SDC) sebagai sistem komunikasi resmi organisasi.

Transformasi tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat efektivitas koordinasi, terutama saat menghadapi situasi darurat dan agenda berskala besar. Amal mencontohkan, sistem komunikasi digital terbukti sangat membantu ketika pandemi Covid-19 melanda, di mana koordinasi kegiatan sosial dan pengamanan tetap dapat berjalan meski mobilitas masyarakat dibatasi.
Digitalisasi komunikasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi menjadi kebutuhan penting agar organisasi tetap mampu bergerak cepat, terstruktur, dan efisien dalam kondisi apa pun,” jelasnya.

Melalui simulasi taktis, diskusi interaktif, serta penguatan sistem pengendalian komunikasi, Diklat NCS ini diharapkan mampu melahirkan personel Senkom yang tidak hanya piawai mengoperasikan perangkat komunikasi, tetapi juga memiliki kemampuan analisis situasi, ketanggapan informasi, dan pendekatan pelayanan yang humanis.

Dengan penguatan sistem komunikasi digital tersebut, Senkom Kota Surakarta menunjukkan bahwa transformasi organisasi tidak hanya menyentuh aspek teknologi, tetapi juga membangun budaya pengabdian yang adaptif, profesional, dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat. (Ghoni)

Facebook Comments Box

Check Also

LDII Ngringo Gelar Pelatihan Juru Sembelih Halal, Perkuat Kompetensi Kurban Sesuai Syariat dan Standar Kesehatan

KARANGANYAR – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Desa Ngringo …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *