Arch Labs Goes to Campus, Bekali Mahasiswa UNS Soal Material

 

Kolaborasi kampus dan industri mempersempit kesenjangan kompetensi mahasiswa desain interior dengan kebutuhan dunia profesional.

GAPURAJATENG | SURAKARTA — Ide desain yang brilian belum cukup untuk menjadikan sebuah ruang benar-benar bisa diwujudkan. Seorang desainer interior juga dituntut memahami karakter material, teknologi bangunan, hingga perangkat kerja yang berkembang di industri.

 

Kebutuhan itulah yang coba dijawab Arch Labs melalui program Goes to Campus yang berkolaborasi dengan Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang digelar di kampus UNS tersebut menjadi ruang bertemunya mahasiswa dengan perkembangan material dan teknologi interior yang digunakan di dunia profesional. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai tuntutan industri yang akan mereka hadapi setelah lulus.

Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian roadshow Arch Labs di sejumlah kota di Indonesia. Sebelumnya, kegiatan serupa telah digelar di Makassar, Bali, Malang, Surabaya, dan Bogor.

Manager Arch Labs, Choirul Chakim, mengatakan Goes to Campus dirancang untuk memberikan pembaruan wawasan kepada mahasiswa sebelum mereka memasuki dunia kerja.

Tujuannya memberikan pengetahuan update terbaru bagi mahasiswa, supaya ketika nanti mereka terjun langsung ke lapangan sudah mengerti dan mengetahui inovasi serta teknologi yang berkembang di dunia kerja,” ujar Chakim.

Menurut dia, perkembangan industri desain interior berlangsung cepat. Karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan informasi yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas.

Arch Labs memperkenalkan sejumlah perkembangan material yang mempertimbangkan kemudahan aplikasi dan aspek ramah lingkungan. Mahasiswa juga dikenalkan dengan teknologi pendukung pekerjaan interior, termasuk berbagai power tools yang dapat membantu proses pengerjaan menjadi lebih presisi dan efisien.

Tak berhenti pada material, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membangun jejaring profesional. Arch Labs berupaya mempertemukan mahasiswa dengan organisasi dan asosiasi profesi, termasuk Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII).

Harapannya, ketika mereka lulus dari kampus sudah memiliki link dan jaringan profesional. Tujuan kami adalah supaya apa yang diciptakan oleh kampus sesuai dengan kebutuhan industri yang saat ini dibutuhkan,” jelas Chakim.

Ide Kreatif Harus Bertemu Pengetahuan Material

Ketua HDII, Deni Irawan, menilai pengenalan material dan teknologi secara langsung menjadi bagian penting dalam proses pendidikan mahasiswa desain interior.

Menurutnya, mahasiswa akan berhadapan dengan sejumlah mata kuliah yang berkaitan erat dengan material interior, teknologi bangunan, maupun sistem arsitektur. Pengetahuan tersebut menjadi modal agar gagasan desain tidak berhenti sebagai konsep di atas kertas.

Mahasiswa bisa belanja pengetahuan melalui kegiatan seperti ini,” ungkap Deni.

Ia menegaskan, kompetensi seorang desainer interior bukan hanya kemampuan menghasilkan konsep yang menarik. Desainer juga harus memahami bagaimana konsep tersebut diterjemahkan menjadi karya yang dapat dibangun dan digunakan.

Ide tanpa pemahaman material berisiko sulit diwujudkan. Sebaliknya, penguasaan teknologi tanpa kreativitas juga tidak cukup untuk menghasilkan desain yang kuat.

Karena itu, perpaduan antara kreativitas, pengetahuan teknis, dan pemahaman perkembangan material menjadi kemampuan yang semakin penting bagi mahasiswa desain interior.

Kampus dan Industri Perlu Berjalan Bersama

Kepala Program Studi Desain Interior FSRD UNS, Listiawan, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, mahasiswa membutuhkan akses terhadap informasi perkembangan material dan teknologi agar karya desain yang dihasilkan tetap kontekstual dengan kebutuhan pasar.

Dari kampus sangat senang karena ada kesempatan mahasiswa untuk mempelajari material desain maupun teknologi bangunan terbaru dalam pembelajaran desain interior,” kata Listiawan.

Ia menjelaskan, desain interior berkaitan dengan berbagai elemen ruang, mulai lantai, dinding hingga plafon. Setiap elemen memiliki karakteristik material dan teknologi penerapan yang berbeda sehingga membutuhkan pemahaman yang memadai.

Workshop dan pengenalan material secara langsung, lanjutnya, menjadi kesempatan mahasiswa untuk memperkaya wawasan sekaligus membaca arah perkembangan industri.

Kolaborasi Arch Labs dan FSRD UNS akhirnya bukan sekadar agenda pengenalan produk. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan dunia kerja.

Di tengah industri kreatif yang terus berubah, mahasiswa ditantang tidak hanya menjadi perancang yang mampu menghasilkan ide segar, tetapi juga profesional yang memahami cara menghidupkan ide tersebut melalui material dan teknologi yang tepat.

Dengan pola kolaborasi semacam ini, kampus dan industri memiliki ruang untuk saling memberi masukan. Mahasiswa memperoleh pengalaman dan jejaring, sementara industri dapat melihat lebih dekat potensi generasi desainer yang sedang dipersiapkan di perguruan tinggi.

Pada akhirnya, desain interior yang mampu menjawab kebutuhan zaman bukan hanya soal tampilan yang menarik. Ia harus inovatif, aplikatif, efisien, memahami teknologi, sekaligus mampu menjawab kebutuhan manusia dan perkembangan pasar. (Din/Gho)

 

Facebook Comments Box

Check Also

LDII Jateng Dorong Inovasi Sorgum, DPD LDII Kota Salatiga Raih Juara II

GAPURAJATENG.COM,SUKOHARJO — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Jawa Tengah terus mendorong pemanfaatan sorgum sebagai salah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *