
GAPURAJATENG | SURAKARTA – Hujan deras yang mengguyur Kota Surakarta, Jawa Tengah, sejak Selasa (14/4/2026) sore hingga malam hari memicu banjir di sejumlah titik. Saat sebagian besar warga terlelap beristirahat, tim relawan justru bersiaga, memantau perkembangan situasi secara intensif.
Melalui sistem komunikasi internal seperti Senkom Digital Communication (SDC), handy talky (HT), serta grup WhatsApp dan Telegram, anggota Senkom SAR Surakarta terus mengawasi kondisi di lapangan secara real time. Aktivitas pemantauan ini menjadi langkah awal dalam merespons potensi bencana secara cepat dan terkoordinasi.
Ketua Senkom Kota Surakarta, H. Yusuf Erwansyah, A.Md., menegaskan pentingnya kesiapsiagaan anggota, khususnya di wilayah yang kerap terdampak banjir.
“Dengan prinsip siaga saat aman, ada saat dibutuhkan, seluruh anggota diminta tetap waspada, memantau situasi, dan melaporkan perkembangan. Pagi hari langsung dilakukan pergerakan ke lokasi terdampak,” ujarnya.
Sejumlah Wilayah Terdampak
Berdasarkan laporan pada Rabu (15/4/2026) pukul 08.00 WIB, beberapa wilayah mengalami dampak banjir dengan kondisi bervariasi:
Makamhaji kondisi : Air mulai surut, kebutuhan logistik dapat dipenuhi secara mandiri. Tim rescue Senkom dikerahkan untuk membantu pembersihan pascabanjir.
Solo bagian Selatan
Kaliwingko Kondisi: Ketinggian air mencapai perut orang dewasa dan masih berpotensi meningkat.
Teposanan (Baron) Kondisi: Air mulai masuk ke rumah warga sejak dini hari, memaksa sebagian warga mengungsi ke masjid terdekat.
Luapan Sungai dan Ancaman Berulang
Banjir di kawasan Kaliwingko dipicu oleh meluapnya sungai setempat yang tidak mampu menampung debit air akibat hujan deras yang berlangsung selama beberapa jam. Dalam waktu relatif singkat, genangan meningkat signifikan dan merendam permukiman.
Arus air yang cukup deras, terutama di sekitar jembatan Kaliwingko, menambah risiko bagi warga yang masih bertahan di rumah. Beberapa titik bahkan dilaporkan mengalami genangan hingga setinggi pinggang orang dewasa.
Harapan Warga dan Evaluasi Penanganan
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk mengatasi persoalan banjir yang kerap berulang.
“Kami butuh normalisasi sungai dan perbaikan drainase. Jangan sampai ini jadi kejadian tahunan,” ujarnya.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya pengelolaan sungai yang berkelanjutan. Sedimentasi, penyempitan alur, serta kurang optimalnya sistem drainase dinilai menjadi faktor utama yang memperparah dampak banjir saat curah hujan tinggi.
Solidaritas dan Respon Cepat
Di tengah situasi darurat, kehadiran relawan menjadi elemen penting dalam membantu masyarakat. Selain melakukan pemantauan, tim Senkom juga terjun langsung membantu evakuasi ringan, distribusi bantuan, hingga pembersihan lingkungan pascabanjir. (Ghoni)
Catatan Redaksi :Kesiapsiagaan berbasis komunitas seperti yang dilakukan Senkom menjadi contoh penting dalam sistem mitigasi bencana modern. Namun, upaya ini perlu diimbangi dengan kebijakan jangka panjang dari pemerintah untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan warga di masa mendatang.
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah