GAPURA JATENG – Ketahanan pangan menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kota Semarang di tengah kondisi perekonomian global yang dinilai penuh tantangan. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengajak masyarakat mulai membangun kemandirian pangan dari lingkungan masing-masing.
Pesan tersebut disampaikan Agustina saat melepas jalan sehat jamaah Masjid Al Wali yang digelar DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Semarang di Kompleks Masjid Al Wali, Jalan Ketileng Raya, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Minggu (30/8/2026).
Kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut diikuti sekitar 3.000 warga LDII dari wilayah Semarang Timur.
Mengapa ketahanan pangan perlu diperkuat?
Agustina mengatakan situasi perekonomian global yang kurang menguntungkan perlu diantisipasi bersama. Menurutnya, masyarakat tidak harus menunggu program berskala besar untuk mulai memperkuat ketahanan pangan.
Pemanfaatan sumber pangan yang tersedia di sekitar lingkungan dapat menjadi langkah awal. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan, upaya tersebut juga dapat mendorong masyarakat lebih hemat dan tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber pangan.
“Yang paling baik adalah kita bertahan. Bagaimana caranya menciptakan lumbung pangan sendiri dan berhemat terhadap bahan pangan yang ada,” kata Agustina.
Ia menilai ketahanan pangan menjadi semakin penting karena kondisi ekonomi global berpotensi memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat di daerah, termasuk Kota Semarang.
“Ketahanan pangan itu penting. Kita menghadapi suasana perekonomian global yang kurang menguntungkan. Takutnya nanti dampaknya sampai ke Kota Semarang,” ujarnya.
Sorgum diperkenalkan sebagai pangan alternatif
Dalam kegiatan tersebut, Agustina juga mengapresiasi keberadaan bazar UMKM dan pengembangan pangan alternatif yang dilakukan warga LDII Kota Semarang.
Salah satu yang mendapat perhatian adalah produk olahan berbahan sorgum. Pengembangan komoditas tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Konsep diversifikasi pangan membuat masyarakat memiliki pilihan sumber makanan yang lebih beragam. Pada saat yang sama, pengolahan bahan pangan lokal dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku UMKM.
Karena itu, kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti yang ditampilkan dalam agenda LDII tidak hanya berkaitan dengan olahraga, tetapi juga dapat menjadi ruang memperkenalkan produk pangan dan usaha warga.
Ketahanan pangan diperkuat lewat kolaborasi masyarakat
Ketua DPD LDII Kota Semarang H Sunarto mengatakan kegiatan jalan sehat di Masjid Al Wali sengaja dipusatkan bagi warga LDII di wilayah Semarang Timur.
“Kalau sampai se-Kota Semarang, bahayanya. Jadi kami bagi. Ini di wilayah Semarang Timur dan diikuti sekitar 3.000 warga LDII. Berasal dari empat pimpinan cabang LDII, yakni wilayah Tlogosari, Pedurungan, Tembalang, dan sekitarnya,” kata dia.
Sunarto menyebut kegiatan tersebut bukan hanya untuk menjaga kebugaran, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan mendorong warga berkontribusi terhadap pembangunan Kota Semarang.
“Kami ingin meningkatkan rasa kebersamaan dan memberikan semangat kepada keluarga untuk menciptakan Semarang semakin hebat,” katanya.
Menurut Sunarto, LDII Kota Semarang juga berkomitmen membangun kolaborasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, baik organisasi Islam maupun non-Islam. Kolaborasi dinilai penting untuk menjaga kerukunan dan memperkuat kehidupan masyarakat yang toleran.
Dari pangan hingga UMKM
Bazar UMKM menjadi salah satu bagian dalam kegiatan tersebut. Warga menampilkan berbagai makanan, minuman, dan produk olahan, termasuk pangan berbahan sorgum.
Ketua panitia Aklis Rosadi mengatakan rangkaian kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebenarnya telah berlangsung sejak Juli. Selain jalan sehat, terdapat lomba mini soccer, bulu tangkis, tenis meja, pencak silat, serta lomba kebersihan yang melibatkan 20 masjid di wilayah Semarang Timur.
“Lomba-lomba ini untuk generasi penerus. Jadi sudah kami mulai sebelum Agustusan dan puncaknya hari ini,” katanya.
Bagi Pemerintah Kota Semarang, penguatan ketahanan pangan tidak berdiri sendiri. Kegiatan ekonomi masyarakat, pemanfaatan pangan alternatif, UMKM, gotong royong, serta kolaborasi antarwarga dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi tekanan ekonomi.
Di sisi lain, Agustina juga mengajak warga LDII mendukung Semarang sebagai tuan rumah MTQ Nasional ke-31 dengan menyambut para tamu dari berbagai daerah secara ramah dan hangat.
“Semarang sebentar lagi menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-31. Saya mohon doa restu dan dukungan agar kita sukses menjadi tuan rumah,” katanya.
Gapura Jateng Gerbang dan Perekat Jawa Tengah